Jumat, 03 Juli 2015

Hercules Jatuh karena Tercantol Antena

JAKARTA – Dugaan bahwa pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Jamin Ginting, Medan, Selasa (30/6) kelebihan muatan dibantah TNI-AU. Berdasar kesimpulan awal TNI-AU, pesawat Hercules yang jatuh di Medan mengalami masalah pada mesin. Namun, meski ada masalah pada mesin, pesawat jenis angkut militer itu disebut bisa selamat kalau tidak menabrak antena.

Panglima Komando Operasional (Pangko Ops) TNI-AU Marsda Agus Dwi Putranto menjelaskan, kesimpulan awal itu didapat setelah tim investigasi mendalami komunikasi pilot yang meminta balik ke Lapangan Udara (Lanud) Soewondo, Medan, sesaat setelah take off. Dari pendalaman tersebut, didapat kesimpulan bahwa sebelum putar balik, laju pesawat bergeser ke kanan dan menabrak antena atau tower setinggi 40 meter.

Setelah menabrak antena tersebut, pesawat terjatuh. ”Penyebab pastinya masih diselidiki oleh tim internal kami. Agak sulit memang. Sebab, kondisi pesawat berkeping-keping dan tidak ada saksi dari dalam pesawat,” ujar pria dengan dua bintang di pundaknya tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Keterangan yang sama diungkapkan Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsma Dwi Badarmanto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Dwi menyebutkan, berdasar keterangan penerbang, masalah yang terjadi pada mesin Hercules yang jatuh sebenarnya dapat ditangani pilot. ”Secara teori bisa di-recovery. Tapi, karena ketinggian masih rendah, masih ada antena. Kalau flat (datar), itu bisa terselamatkan. Karena ada beberapa teman yang punya pengalaman (masalah) seperti itu,” kata Dwi.

Dwi meyakini, jika hal itu terjadi di bandara seperti Halim yang tidak memiliki hambatan di luar lapangan udara dengan antena tinggi, pesawat bisa kembali selamat. Namun, di lingkungan Lanud Soewondo, Medan, menurut dia, terdapat antena-antena tinggi. Padahal, dalam aturan penerbangan, sebut Dwi, tidak boleh ada obstacle atau gangguan pada navigasi penerbangan. ”Idealnya, pangkalan TNI ring paling luar harus 5 km tidak ada obstacle seperti itu. Tapi, ini di sana enggak sampai 5, sekitar 4 km,” ujar Dwi.
Meski demikian, Dwi menyatakan, semua itu masih kesimpulan sementara, bukan kesimpulan akhir. Tim investigasi, lanjut dia, sedang bekerja menyelidiki hal tersebut. ”Ini baru dugaan sementara,” kata Dwi.


Kelebihan Beban
Bagaimana dugaan bahwa pesawat Hercules jatuh karena kelebihan beban? Saat dikonfirmasi Jawa Pos, Pangko Ops TNI-AU Marsda Agus Dwi Putranto menyebut dugaan itu kurang tepat. Sebab, kapasitas angkut pesawat Hercules mencapai 12,5 ton. Karena itu, sekalipun penumpangnya banyak, pesawat tidak sampai overload.

Hanya, Dwi tidak memungkiri bahwa data penumpang di pesawat lebih banyak daripada keterangan sebelumnya. Seperti diketahui, pernah muncul keterangan dari kepala staf Angkatan Udara (KSAU) yang menyebut 101 penumpang dan 12 awak. Total ada 113 orang di dalam pesawat tersebut. ”Semalam KSAU sudah merevisi. Jumlah orang yang ada di pesawat semuanya 122. 12 awak pesawat dan 110 penumpang,” ungkap Dwi.

Meski jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya, TNI-AU berkeyakinan beban pesawat tidak berlebih. Dwi menyatakan, kalau dihitung dari jumlah penumpang, bebannya hanya 7 ton. ”Kalau sama barang yang ada di dalam pesawat, total 8 ton. Ini tidak bisa dikatakan overload. Pesawat bisa overload kalau melakukan perjalanan panjang dengan membawa logistik dalam jumlah sangat banyak,” katanya.
Karena itu, TNI-AU meminta tidak ada andai-andai dalam menduga penyebab jatuhnya pesawat Hercules di Medan. TNI-AU tidak memungkiri bahwa penumpang di dalam pesawat bukan hanya anggota tentara. Namun, mereka yang naik juga adalah keluarga atau kerabat tentara.

Hal itu tentu berbeda dengan temuan Jawa Pos di lapangan. Banyak penumpang yang merupakan masyarakat sipil. Misalnya, AS. Mahasiswa semester III di Pekanbaru tersebut adalah warga sipil. Adiknya, BS, yang datang ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik menerangkan itu.
Begitu pula keluarga Dedi Aprianto yang dua anaknya –Rizki Budi Prakarsa dan Rinaldi Widianto Putra– turut menumpang di pesawat Hercules. Mereka juga merupakan warga sipil. Dedi pekerja swasta, istrinya pegawai negeri sipil (PNS). ”Saya pemilik musik organ tunggal,” akunya.
TNI-AU tidak mau menanggapi serius. Mereka bersikukuh bahwa para penumpang adalah keluarga atau kerabat tentara. Sebab, pesawat Hercules bukanlah pesawat komersial. Lantaran hal itu pula, TNI-AU menyangkal penumpangnya berlebih. ”Pesawat tidak overload. Ini bisa menampung beban 12,5 ton.

Kesimpulan sementara setelah take off, kecepatan pesawat masih kurang dan pada saat bersamaan satu mesin pesawat mati,” terang Dwi. (fim/far/c6/kim)

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com