Selasa, 07 Juli 2015
Home »
» Ribuan Buruh Tekstil Terancam PHK Akibat Pelemahan Ekonomi
Ribuan Buruh Tekstil Terancam PHK Akibat Pelemahan Ekonomi
SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (FKSPN) Kabupaten Karanganyar, Hariyanto (44) waswas bakal kembali terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di wilayahnya jika pelemahan ekonomi terus terjadi.
Tanda-tanda kelesuan industri tekstil tampak dari tutupnya satu perusahaan tekstil di Karanganyar, yaitu PT Surya Kebak Tek pada bulan Juni lalu.
"Sekitar 500 orang kini menganggur terkena dampak tutupnya perusahaan. Kami sedih dan khawatir ini akan terus terjadi," ujarnya pada Tribun Jateng, tengah pekan lalu.
Ia bercerita dari 19 anggota FKSPN di Karanganyar, sebagian besar bekerja di pabrik tekstil dan garmen. “Enam perusahaan tekstil sudah mulai sambat (mengeluh) tentang kesulitan produksi dan penjualan sejak Januari lalu,” katanya.
Semenjak itu perusahaan tekstil di wilayahnya mulai melakukan efisiensi. Beberapa hal yang dilakukan pengusaha untuk mengurangi dampak lesunya ekonomi yaitu pengurangan hari kerja. Dalam kondisi normal, anggotanya bekerja selama enam hari, namun enam bulan terakhir hanya bekerja lima hari kerja.
Kemudian, lembur ditiadakan sejak awal tahun. Beberapa perusahaan memilih merumahkan sebagian karyawannya. Ada yang hanya seminggu dan paling lama empat bulan. "Ada yang menggilir karyawannya atau dibikin shift misal sehari masuk sehari libur. Gajinya tentu hanya 50 persen," tuturnya.
Jika kondisi perekonomian semakin memburuk, Hariyanto khawatir akan terjadi PHK massal. Jika lima perusahaan tekstil menyusul kolaps, berarti minimal 2.500 buruh di Karanganyar akan menganggur.
Dampaknya, menurut Hariyanto, mulai dari kehidupan ekonomi warga yang kekurangan hingga memicu kriminalitas.
“Kami tidak ingin hal itu terjadi. Karena itu, beberapa waktu lalu perwakilan buruh menemui Bupati Karanganyar untuk minta solusi, hasilnya nihil. Tidak hanya kami, pengusaha juga mengeluh terus rugi, cari bahan baku dan penjualan sulit. Belum lagi kewajiban membayar pakai rupiah di saat dollar tinggi," ucapnya. (tim)
Tribun Jateng Cetak
Sumber








0 komentar:
Posting Komentar